Untuk membuat alat tester kompresor inverter dan dinamo BLDC, arsitektur dasarnya seperti ini:
Sumber daya DC
Gunakan supply DC sesuai target motor/kompresor, misalnya 24 V, 48 V, 310 VDC, atau sesuai spesifikasi unit.
Untuk kompresor inverter AC rumah tangga, biasanya butuh tegangan DC tinggi dari hasil penyearah AC, jadi ini berbahaya dan perlu isolasi/proteksi serius.
Driver 3-fasa
Gunakan inverter 3-fasa berbasis 6 MOSFET/IGBT.
Untuk motor kecil BLDC, bisa memakai driver siap pakai seperti ESC BLDC atau modul driver 3-fasa.
Untuk kompresor inverter, driver harus disesuaikan dengan tegangan dan arus kompresor.
Kontroler
Gunakan mikrokontroler seperti STM32, ESP32, atau Arduino-compatible board.
Kontroler menghasilkan sinyal PWM 3-fasa untuk mengatur kecepatan motor.
Untuk BLDC sensored, baca sensor Hall.
Untuk BLDC sensorless/kompresor, perlu deteksi back-EMF atau algoritma FOC/sensorless control.
Sensor arus dan tegangan
Tambahkan sensor arus pada input DC atau masing-masing fasa.
Tambahkan pembacaan tegangan bus DC.
Ini penting untuk proteksi over-current, short, stall, dan beban berlebih.
Proteksi
Fuse/MCB.
Proteksi over-current.
Proteksi over-voltage/under-voltage.
Proteksi suhu heatsink.
Emergency stop.
Isolasi optocoupler/digital isolator untuk sinyal kontrol jika memakai tegangan tinggi.
Antarmuka pengguna
Potensiometer atau tombol untuk mengatur speed.
Display kecil untuk menampilkan tegangan, arus, RPM, error.
LED indikator fault/run.
Untuk pemula, saya sarankan mulai dari tester BLDC tegangan rendah 12–48 V dulu, bukan langsung kompresor inverter tegangan tinggi. Rancangan aman awal:
Input: 12–48 VDC
Driver: modul ESC/driver BLDC 3-fasa sesuai arus motor
Kontrol: Arduino/ESP32 menghasilkan sinyal throttle PWM